Perkembangan teknologi digital membuat smartphone menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi…
Apalah Artinya Sekolah Bernafsu Mengejar Adiwiyata, Tapi Penghuninya Masih Mesra Dengan Prilaku Jorok
Sekolah bernafsu mengejar Adiwiyata. Banner dipasang di mana-mana. Poster hijau menghiasi dinding. Program kerja disusun rapi. Laporan tebal disiapkan. Foto kegiatan ditata sedemikian rupa. Semuanya tampak sempurna.
Namun, apa artinya semua itu jika penghuninya masih mesra dengan perilaku jorok? Sampah plastik masih tercecer di sudut kelas. Tempat sampah tersedia, tapi tak dipedulikan. Toilet kotor dibiarkan seolah bukan tanggung jawab bersama. Coretan dinding dianggap hal biasa. Bahkan halaman yang sudah ditanami pun kembali dipenuhi bungkus jajanan.
Adiwiyata bukan sekadar lomba. Bukan sekadar label. Bukan pula sekadar kebanggaan administratif. Adiwiyata adalah budaya. Ia hidup dari kebiasaan kecil: memungut sampah tanpa disuruh, merapikan kelas sebelum pulang, hemat air saat mencuci tangan, dan menjaga lingkungan tanpa kamera.
Jika kesadaran itu belum tumbuh, maka Adiwiyata hanya menjadi panggung seremonial. Saat penilaian datang, semua bergerak. Setelah itu, kembali seperti semula. Semangat hijau berubah menjadi formalitas sesaat.
Lingkungan bersih bukan hasil program, tetapi hasil karakter. Dan karakter tidak dibangun lewat slogan, melainkan teladan. Guru yang peduli, siswa yang sadar, petugas yang dihargai, dan aturan yang ditegakkan secara konsisten.
Jadi, sebelum sibuk mengejar penghargaan Adiwiyata, mungkin ada baiknya bertanya lebih dulu:
sudahkah kita membangun budaya bersih?
sudahkah kita malu membuang sampah sembarangan?
sudahkah kita menjaga sekolah seperti rumah sendiri?
Karena sejatinya, Adiwiyata bukan tujuan akhir. Ia hanyalah konsekuensi dari kebiasaan baik yang tumbuh setiap hari.




