Produktifitas Empot Empotan Gaji Buta Jadi Pujaan

Jeng Kellin Makan Gaji Buta, Hobby Keliling Alergi Kerja

  • Nov, 04, 2025
  • 0
  • 60 views

Pagi hari, jam menunjukkan pukul 08.15. Kantor sudah mulai ramai. Mesin absen berbunyi beep-beep, tanda para pekerja siap memulai hari penuh produktivitas. Tapi ada satu nama yang belum terdengar yaitu Jeng Kellin. Seperti biasa, Jeng Kellin datang dengan langkah anggun, secangkir kopi di tangan, dan senyum semanis janji kontrak kerja yang dulu ia ucapkan, “Saya siap bekerja sepenuh hati, ”Namun ternyata, yang sepenuh hati hanyalah… niatnya tidur di jam kerja.

Begitu sampai di meja, Jeng Kellin membuka laptop, mengetik tiga baris, lalu menatap layar seperti memandangi masa depan yang buram. Lima menit kemudian, ia menutup mata, menghela napas panjang, dan berkata dalam hati, “Kerja itu penting, tapi kesehatan mental lebih penting.”

Seketika, ia menguasai jurus rahasia Ilmu Menguap Tingkat Lanjut. Setiap kali ada tugas datang, mulutnya menguap, mata berair, dan jemarinya berhenti di udara seperti keyboard sedang bermeditasi.

Dalam dunia Jeng Kellin, “kerja keras” berarti menjawab pesan grup keluarga sambil menggulir media sosial. Saat rapat dimulai, ia tampak fokus menatap layar. Tapi bukan spreadsheet yang ia lihat, melainkan diskon flash sale sepatu baru. Setiap kali pimpinan bertanya, “Ada tanggapan, Jeng Kellin?” Ia tersenyum sopan, menatap kamera, dan menjawab dengan kalimat pamungkas: “Saya setuju dengan pendapat sebelumnya.” Kalimat itu telah menyelamatkan kariernya selama tiga tahun berturut-turut.

Dalam dunia kerja modern, profesionalisme bukan hanya soal hadir di tempat kerja, tetapi juga soal tanggung jawab moral terhadap janji dan etika kerja. Namun, di balik seragam rapi dan laporan yang tampak tertata, sering kali tersembunyi wajah-wajah yang menolak tanggung jawab. Sosok seperti “Jeng Kellin” hanyalah simbol perwakilan dari mereka yang menikmati gaji tanpa kerja, menerima upah tanpa dedikasi.

Bagikan ini :