Masikah Bangga Dengan bangsa Ini ?
Beberapa minggu yang lalu ketika duduk di kursi belajarku seperti biasanya saya membuka email yang masuk. Beberapa teman-teman lain sudah cukup berisik, sibuk melihat twitter dan membuka beberapa portal berita online. Ketika membuka sebuah email, ternyata berisikan sebuah himbauan agar kami berhati-hati terhadap situasi Jakarta saat ini. Tentu harus berhati-hati, karena dipastikan selama sepekan akan banyak terjadi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM.
Seketika saya mengerutkan dahi, agak takut. Memang demonstrasi kali ini sebesar apa? Apakah lebih heboh dari demo para serikat buruh di Cikarang yang pernah memboikot tol beberapa waktu lalu? Beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika libur hari raya Nyepi, saya memutuskan untuk main ke rumah saudaraku di Jakarta selama 3 hari. Dan 3 hari Itu pun berlalu, hari liburku berakhir kemudian saya putuskan untuk pulang lagi ke Cirebon. Sepanjang perjalanan yang ditempuh dalam waktu 3 jam, biasanya saya habiskan untuk tidur. Kali ini berbeda, saya habiskan untuk melihat hamparan pemandangan sawah yang hijau. Rasanya segar sekali. Sayang saya tak sempat mengambil beberapa foto, saking menikmati moment itu.
Ketika kereta jurusan Gambir-Cirebon mulai jalan, pandangan saya tak luput melihat keluar jendela. Saya melihat Monas, beberapa gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, jalan layang, dan kemacetan. Pemandangan itu kemudian berganti setelah melewati stasiun Cikampek, beberapa menit selanjutnya saya disajikan pada pemandangan kawasan industri yang jarang akan pohon, berdebu, panas dan cukup macet. Tak berseling begitu lama, ada pemandangan anak kecil yang bermain bola di siang bolong, beberapa pelajar SMP dengan seragam putih-birunya melewati jalan di samping rel kereta api. Hamparan sawah hijau pun mencuri perhatian saya, hijau muda, luas, dan basah, rupanya habis tersiram hujan. Beberapa petani hilir mudik di sawah mereka. Damai sekali rasanya.
Indonesia itu luas ya, itulah yang pertama saya pikirkan. Tidak hanya diisi dengan pemandangan gedung bertingkat dan kemacetan. Tapi jauh 280 kilometer di sana, banyak masyarakat yang juga berkewarganegaraan Indonesia tinggal dan menggantungkan nasibnya pada negara ini. Dilahirkan ketika matahari terbit di bumi pertiwi hingga menutup mata.
Negeri yang saya kenal merah-putih nya lewat seragam Sekolah Dasar dan bendera Merah Putih dalam upacara Senin pagi.
Negeri yang saya dengar merdeka dengan perjuangannya yang begitu keras terhadap penjajahan bangsa-bangsa lain di masanya.
Indah, damai, tentram, harmonis. Itu yang selalu digambarkan di buku pelajaran-pelajaran Sekolah Dasar. Tak salah memang, mungkin niatnya menumbuhkan semangat positivisme di kalangan anak-anak bakal penerus bangsa. Toh sejujurnya tanpa rasa malu saya tetap yakin bahwa Indonesia suatu saat nanti akan menjadi negara yang damai dan mendamaikan kehidupan warganya.
Tentu keyakinan itu tidak serta merta hanya sebatas angan. Negara ini akan maju ketika digerakkan oleh Sumberdaya manusianya. Agaknya ini sedikit retorika, tapi memang sadarlah bahwa masa depan negara ini ada di tangan kita. Masa depannya ada di setiap anak muda dengan kompetensi di bidangnya masing-masing.
Tak perlu terjun ke dunia politik kalau toh ternyata seorang anak muda bisa memberikan sumbangsih di dunia teknologi dalam negeri. Tak perlu jadi Cagub kalau toh ternyata banyak anak muda bisa memberikan kontribusi pemikiran dan inspirasi untuk perbaikan negara ini.
Saya YAKIN! PERCAYA! Bahwa mulai dari sekarang, gerakan yang menyuarakan perubahan itu harus lebih dikembangkan. Apapun itu, selama positif dan dilakukan sesuai dengan minat kita masing-masing. Dari pada hanya mengeluh dan berkata, "Gini amat sih negara gue!" atau "Miris gue liat negara ini, demo melulu!"
Nah, apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang yang berkomentar seperti itu?
Dari penuturan beberapa teman yang mengikuti festival tari di luar negeri, mereka selalu bercerita antusias bahwa negara lainnya begitu takjub dan kagum melihat gerakan tarian Indonesia, warna kostum yang begitu berani serta orang-orangnya yang begitu ramah. Ketika para orang bule itu mencicipi masakan Indonesia, teman saya yang berkuliah di Austria bercerita bahwa mereka ketagihan, dan bertanya apa resepnya!
Ketika negara lain melihat batik yang dikenakan salah seorang teman saya, mereka bertanya, pakaian apa itu? dan kagum melihat corak dan motifnya!
Mereka (orang bule) sangat suka dengan warna kulit kita, cantik katanya.
Apa yang masih saya ragukan dari negara ini? sekarang, 10 tahun lagi bahkan hingga waktu yang hanya Tuhan yang tahu, saya PERCAYA masih banyak anak-anak muda yang begitu semangatnya mengharumkan nama baik bangsa ini. Begitu banyak anak muda yang optimis akan perubahan kehidupan negara ini, tak perlu ragu! Lihat, betapa banyak gerakan yang diwadahi melalui dunia maya, mereka berkicau tapi mereka pun bertindak!
Maka, setidaknya untuk apa kita ragu dan pesimis dengan beberapa kejadian pahit di negara ini? bukankah apa yang kita lihat dapat menjadi sebuah pelajaran bagi kita kelak ketika menjadi seorang pemimpin kelak?
Masih banggakah jadi orang Indonesia? YA! Hingga detik ini, dan sampai waktu yang tak ditentukan ! Jadi, mulai tanyakan kepada diri sendiri. Apa yang sudah kita berikan untuk negara ini?
Penulis : Galuh R, alumni SMPN 1 Arjawinangun, tahun 2012






