lelaki penjua koran

Lelaki Loper Koran dengan Sejuta Pengorbanan

  • Jul, 28, 2025
  • 0
  • 123 views

Ayah sering bercerita kepada kami saat kami sedang malas-malasnya melakukan sesuatu. Aku tidak menyangka kalau ayahku pernah mengalami masa-masa sulit dihidupnya. Dibanding kami uang hidup di zaman sekarang, ayah lebih pantas mendapatkan penghargaan atas pengorbanannya selama ini.
Ayahku anak sulung dari empat bersaudara. Keluarga ayah termasuk keluarga yang sangay sederhana di kampungnya. Ayah besar tinggal di kampung Karangsari , Majalengka. Ayah dan ketiga adiknya lahir di Kampung itu .


Orang tua ayah selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu mandiri dalam menjalani hidup, termasuk dalam dunia pendidikan. Hal inii pula yang ayah ajakrkan kepada kami anaknya. Orangtua ayah pada saat itu hanya bias menyekolahkan ayah sampai tamat SD saja dikarenakan Pada saat ayah kelas 6 SD, Duka datang di keluarga ayah, Abah ( Bapak dari ayah ) Meninggal Dunia ketika mencangkul di sawah karena serangan jantung mendadak. Ayah mempunyai cita-cita yang tinggi maka berusaha bekerja untuk menyekolahkan dirinya sendiri dan ketiga adiknya.


Ayah vakum selama dua tahun, karena ayah bekerja membantu Ambu(ibu dalam bahasa sunda) di sawah, ladang, mengembala kambing dan mencari rumput , sesekali ayah menjadi kuli bangunan jika ada tetangga yang sedang membangun rumah. Setelah dua tahun vakum dari dunia pendidikan ayah melanjutkan sekolahnya ke SMO. Sebenarnya Ambu bisa semangat ayah untuk bersekolah. Jarak rumah sampai ke sekolah ayah 5 kilo meter, ayah tempuh dengan menggunakan sepeda tua warisan dari abah sepeda itulah yang tahu bagaimana perjungan ayah semasa muda. sambil bekerja paruh waktu menjadi kuli angkut di Pasar Cikijing , dan membantu ambu di sawah dan kebun. Hasil dari menjadi kulia angkut dan hasil kebun itulah yang ayah pergunakan untuk mengejar cita-citanya.


Ayah termasuk anak yang rajin dan pinta, berani semua orang mengaguminya , hingga ayah terpilih menjadi ketua Osis di SMP. Tubuh ayahku tidak terlalu tinggi, tapi ia mampu menunjukan kepada semua orang bahwa ia mampu menjadi pemimpin yang baik. Setelah ayah lulus SMP ayah berkeinginan SMA, tapi ayah terpaksa harus mengurungkan niatnya karena kedua adiknya juga perlu sekolah, adik pertama ayah perempuan dia rela hanya lulus SD demi membantu ayah untuk sekolah dan membantu ambunya. Setelah Lulus SMP ayah nekat mengadu nasib ke Jakarta dengan Modal uang tiga belas ribu rupiah saja pada jaman itu, dan sepeda tua warisan abahnya. Ayah berani mengadu nasib di Jakarta demi mimpinya yaitu bisa sekolah dan menyekolahkan adik-adiknya.


Ayah di Jakarta pontang-panting kerja serabutan. Pelbagai pekerjaan ayah kerjakan, dari mulai tukang sapu jalanan, tukang kredit perabot keliling, tukang roti keliling, tukang Koran, kerja menjalani hidup di Jakarta sudah ayah alami tapi ayah tetap berkeyakinan dan bersemangat untuk meraih mimpinya dengam harapan ayah bekerja selama ini bisa membuat ayah bersekolah kembali. Hingga pada suatu hari ayah membaca sebuah Koran, di Koran tersebut terdapat sebuah iklan dari yayasan yang memberikan sekolah SMA secara gratis bagi anak yatim dan kurang mampu, yayasan tersebut ternyata milik dari Almarhum Gus Dur. Ayah berusaha mendapatkan beasiswa tersebut, Ayah berusaha keras belajar kembali dan pada akhirnya Ayah Mendapatkan beasiswa tersebut. Tapi ayah juga masih harus bekerja paruh waktu untuk biaya hidup di Jakarta dan kedua adiknya yang sekolah di kampung.


Kehidupan remaja ayah sma seperti kehidupan remaja lainnya ayah sering bergurau dan bergaul. Meski sepulang sekolah ayah harus bekerja sebagai tukang kredit perabot keliling menggunakan sepeda tua itu, ayah tidak pernah lupa untuk belajar. Ayah masih tetap jadi juara pertama di sekolahnya. Semua guru menyukainya karena ayah memang pintar dalam semua mata pelajaran. Dijakarta ayah mengontrak rumah bersama 20 teman lainnya yang berasal dari kampung Karangsari, tinggal di rumah petak dengan penghuni yang melebihi kapasitas ayah tetap bersemangat, dan bersabar serta terus belajar. Karena ayah selalu menjadikan mimpinya itu sebagai doa disetiap detiknya. Ayah memegang teguh pesan-pesan abahnya yaitu Lebihkan Usahamu, Lebihkan Doamu, Lebihkan Sabarmu, nisacaya Allah pun akan melebihkan apa yang kamu harapkan, pesan ini pula yang ayah tanamkan pada diriku sejak saya SD.
Semua biaya pendidikan ayah tanggung sendiri, karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung. Ayah sempat hampir pernah putus sekolah, tapi ayah mampu memperjuangkannya. Kehidupan yang keras sudah ayah pernah rasakan demi pendidikan. Tapi, itu tak meyulitkan ayah untuk hidup mandiri memperjuangkan hidup, mimpi, dan cita. Ayah berhasil Lulus SMA dengan Predikat Lulus Gemilang, dan ayahpun berhasil Menyekolahkan adik-adiknya hingga tamat SMA.


Setelah Lulus SMA ayah masih mempunyai mimpi untuk kuliah. Tapi lagi-lagi ayah harus menunda mimpinya ayah vakum selama 1 tahun untuk bekerja dan mengumpulkan biaya untuk kuliah. Ayah Bekerja sebagai Cleaning Service di Mall Gajah Mada Jakarta ayah, selama setahun itu ayah bekerja mati-matian demia mimpinya yaitu Kuliah. Setelah itu ayah bisa melanjutkan kuliah di Salah satu Sekolah tinggi di Jakarta dengan Jurusan Diploma-II Manajemen. Pada saat kuliah ayah melepaskan pekerjaannya sebagai cleaning service, ayah bekerja sebagai tukang loper Koran kembali dari terminal ke terminal, dari lampu merah ke lampu merah, dari rumah ke rumahayah lakukan semua itu demi mimpi dan cita-citanya. Bahkan ayah pernah tidak pulang ke kontrakan karena kelelahan menjual Koran, sehinggan tidak kuat lagi mengayuh sepeda tuanya untuk pulang.


Menjadi tukang loper Koran bukan pekerjaan yang mudah ternyata, ayah sering dicaci dan menerima perkataan kasr dari orang. Tapi ayah tetap sabar menerimanya. Dua tahun ayah menjadi seorang loper Koran berhasil mebuat ayah lulus Diploma-II. Lalu ayah bekerja di mall Gajah Mada sebagai kepla gudang, atasan ayah tidak menyangka kalau seorang cleaning service berhasil menyelesaikan kulianhya walaupun hanya sampai dengan Diploma-II. Tapi ayah berhasil membuktikan bahwa mimpi itu nyata bagi mereka yang mau berusaha keras dan memperjungkan mimpinya. Ayah berhasil membuktikan keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk mewujudakn mimpi, dan berhasil meraih cita-cita.


Setelah Lulus Kuliah ayah pulang ke kampung dengan harapan ayah bisa memperdayakan pemuda di kampungnya agar bisa lebih maju. Ayah mendirikan organisasi dengan nama HIPEKA ( Himpunan Pemuda Karangsari) hingga saat ini organasasi pemuda itu masih aktif di kmapung Karangsari. Ayah berhasil membuat usaha berbasis koperasi dengan pemuda sebagai anggotanya. Koperasi yang ayah kelola berhasil mendapatkan pemaukan yang besar dan berhasil mensejahterakan anggota HIPEKA.
Setelah ayah menikah ayah pindah ke Tegalgubug, Cirebon. Ayah bekerja sebagai pedagang di pasar Tegalgubug dengan ilmu yang ayah miliki dan kegigihan ayah, serta kepercayaan yang orang berikan kepada ayah membuat ayah berhasil menjadi seorang pedagang pakaian yang sukses pada masa itu. Ayah Berhasil mengganti Sepeda tua yang setia itu menjadi sebuah sepeda motor, ayah berhasil mengganti pengapnya tinggal di rumah petak dengan tinggal di rumah yang sehat. Walaupun ayah tinggal di Cirebon ayah selalu mengawasi perkembangan HIPEKA itu, sebulan sekali ayah selalu pulang ke kampung untuk menengok ambu dan HIPEKA.


Ayah menjadi tokoh yang bisa dikatakan dihormati di desa Tegalgubug, pemikiran-pemikiran ayah sangat dihargai oleh warga desa. Tapi, tak selamanya ayah menikmati keberhasilan tersebut, Ayah diberi nikmat yang lain oleh Allah. Ibu mertua ayah kecelakaan pada tahun 2001, sehingga ayah yang menanggung semua biaya pengobatannya. Sehingga usaha dagangya pun gulung tikar karena habis untuk biaya pengobatan ibi mertua ayah. Tapi, ayah tetap berusaha bangkit kembali ayah tetap berdagang kesana kemari dengan motor tahun 1996 nya. Pagi dagang, sore ayah berdagang di kampung-kampung yang ada pasar malamnya. Ayah bekerja keras demi kami anak-anaknya.


Pada tahun 2009 Ayah memilih bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia ) di Saudi Arabia. Dengan harapan mendapat penghasilan yang lebih baik untuk biaya sekolah kami anak-anaknya. Dengan keputusan ayah yang tiba-tiba itu banyak kerabat, teman dan rekan kerja yang merasa kaget dan kehilangan atas sosok ayahku disekitar mereka, tapi ayah tetap yakin terhadap keputusannya demi sekolah keempat anaknya. Saya masih ingat waktu itu Rabu, 16 April 2009 ayah mengambilkan formulir pendaftaraan di SMAN 1 Sumber, dan sore harinya ayah berangkat ke Jakarta Lalu ke Saudi Arabia. Sebelum pegi ayah sempat berpesan padaku “ ayah yakin di sekolah itu kamu bisa Berjaya, teh..kamu bisa menggali potensi yang ada di dirimu, ingat pesan ayah Lebihkan Usahamu, Lebihkan Doa, Lebihkan sabar, Jangan pernah Takut bermimpi, perjuangkan apa yang kamu mau bukan yang kamu ingin. Ingat Syair Imam syafi’i yang selalu ayah bacakan sebelum kamu tidur berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang” pesan ini yang saya jadi motivasi saya untuk terus berprestasi.


Sampai sekarang ayah selalu menyemangatiku, terus-menerus tanpa henti. Ayah mengajarkanku Hidup mandiri dan hidup berjuang demi cita-cita. Itu yang abah dan ambu ajarkan pada ayah. Walaupun saat ini, saat saya menulis cerita ini ayahmsih di Saudi Arabia ayah masih menjaga komunikasi denganku Terus menyemangatiku. Pengorbanan ayah mengajarkanku kalau kita mau berusaha diatas rata-rata orang lain berusaha, apapun bisa terjadi. Walau orang memandang rendah, jangan pernah jadikan sebagai kelemahan, tapi sebagai kekuatan untuk menyemangati diri kita untuk meraih cita-cita. Lelaki Loper Koran dengan Sejuta Pengorbanan berhasil memberikan contoh terbaik dalam hidupku.


Terima kasih, ayah….kau adalah inspirasiku selama ini. Aku kagum dengan kegigihanmu untuk menyelesaiakn sekolah dan kuliahmu serta meriah mimpimu selama ini. Terima Kasih, untuk pengorbanan dan berjuta peluh yang kau cucurkan untuk anak-anakmu…kelak nanti jika aku sukses tak ku perkenankan peluhmu mentes kembali, biarkan aku yang berjuang demi membahagiakanmu, ayah…

Bagikan ini :