Aku Bukan Ronit Apalagi Daimyo

Aku Bukan Ronin, Apalagi Daimyo

  • Nov, 03, 2025
  • 0
  • 13 views

Kabut pagi masih menggantung di lereng gunung ketika aku melangkah perlahan di jalan tanah yang basah. Di kejauhan, suara burung gagak memecah keheningan, seakan mengingatkan bahwa dunia tak pernah benar-benar tidur. Aku bukan siapa-siapa di dunia ini tidak memiliki tuan seperti ronin, juga tidak punya tanah atau pasukan seperti daimyo. Tapi di dada ini, ada sesuatu yang bahkan mereka tak punya: kebebasan.

Orang-orang di desa memandangku aneh. “Samurai tanpa lambang,” kata mereka, seolah aku makhluk tanpa arah. Tapi aku tak peduli. Aku sudah terlalu lama hidup di bawah panji-panji orang lain, diperintah oleh kehormatan yang ditentukan oleh pedang dan darah. Kini, aku hanya ingin hidup dengan prinsipku sendiri tanpa peperangan, tanpa penghormatan palsu.

Di perjalanan, aku sering bertemu ronin yang kehilangan arti hidup, menenggelamkan diri dalam arak dan penyesalan. Ada pula daimyo yang memerintah dengan ketakutan, tersenyum di depan rakyat tapi gelisah di balik dinding istananya. Aku belajar dari mereka: kehilangan arah bisa lebih berbahaya daripada kehilangan kekuasaan.

Aku berjalan terus. Setiap langkahku adalah perlawanan kecil terhadap dunia yang memuja pangkat. Aku bukan ronin yang tersesat, bukan daimyo yang rakus. Aku hanyalah bayangan yang bergerak di antara dua dunia, dunia kehormatan yang palsu dan dunia kebebasan yang sepi.

Bayangan di Jalan Sunyi

Sore itu, langit merah seperti bara yang hampir padam. Aku berhenti di tepi sungai kecil, membasuh wajah dari debu perjalanan. Di seberang, seorang anak laki-laki memandangi air dengan tatapan kosong. Bajunya lusuh, pedang kayu di tangannya patah di ujung.

“Kenapa pedangmu rusak ?” tanyaku, menatapnya dari balik bayangan bambu.

Anak itu menoleh pelan. “Aku kalah bertarung. Mereka bilang aku bukan samurai sejati.”

Aku tersenyum samar. “Samurai sejati bukan diukur dari pedang, tapi dari cara ia berdiri setelah kalah.”

Ia menatapku heran. “Apakah engkau seorang samurai ?”

Aku terdiam sejenak. Kata itu masih berat untuk diucapkan. “Aku bukan ronin, apalagi daimyo,” jawabku akhirnya. “Aku hanya seseorang yang mencoba tak menyerah pada dirinya sendiri.”

Anak itu mendekat. “Bisakah kau mengajariku berpedang?”

Aku menatap langit, mendengar desir angin di sela pepohonan. Sudah lama aku tak melatih siapa pun, tapi ada sesuatu di mata anak itu, api kecil yang belum padam meski ditiup dunia.

“Baiklah,” kataku. “Tapi bukan pedang yang akan kuajarkan. Aku akan mengajarkanmu bagaimana menjadi manusia yang tidak dikalahkan oleh hatinya.”

Sejak hari itu, kami berjalan bersama. Dari satu desa ke desa lain, dari musim ke musim. Aku bukan guru yang sempurna, tapi aku tahu satu hal: dunia selalu butuh orang yang berjalan tanpa bendera, tanpa gelar, tapi dengan nurani yang tegak.

Dan ketika malam turun, api unggun kecil kami menyala di antara kesunyian. Anak itu tidur dengan pedang kayunya di pelukan, sementara aku menatap bintang-bintang yang dulu kucemooh.

Mungkin, pikirku, kebebasan bukan hanya untuk mereka yang berjalan sendirian, tetapi juga untuk mereka yang berani menuntun satu jiwa kecil agar tak tersesat dalam dunia yang gelap.

Bagikan ini :