Cungkring Jadi Ratu Selamat Datang Zaman Batu

Cungkring Jadi Ratu, Selamat Datang Zaman Batu

  • Okt, 31, 2025
  • 0
  • 11 views

Dulu, ratu dikenal karena wibawa, kecerdasan, dan ketegasan. Kini, cukup dengan wajah tirus, bicara manis, dan kemampuan bersandiwara di depan kamera, seseorang bisa dimahkotai “ratu” — ratu likes, ratu konten, ratu drama. Maka lahirlah zaman baru yang ironis: Cungkring jadi ratu, dan kita semua bersorak seolah itu kemajuan.

Cungkring bukan soal bentuk tubuh, tapi tentang jiwa yang kurus nilai. Ia lapar pujian, haus sensasi, dan hidup dari sorak palsu dunia maya. Ia menari di atas algoritma, memoles citra, menipu rasa. Dan masyarakat yang lebih sibuk menggulir layar daripada berpikir menobatkannya sebagai panutan.

Begitu mudah hari ini menjadi “ratu” tanpa kerajaan, tanpa tanggung jawab, tanpa nilai. Kita hidup di era di mana ketenaran menggantikan kepintaran, dan drama lebih laku daripada kebenaran. Maka, jangan heran bila banyak “ratu” muncul dari debu digital, menari di atas panggung kesia-siaan, sementara akal sehat perlahan mati membatu.

Di sinilah kita mulai menyadari: kemajuan teknologi tak menjamin kemajuan budi. Ketika yang dipuja hanyalah citra, dan yang dibuang adalah makna, maka dunia modern ini justru kembali mundur ke zaman batu baru, di mana manusia tak lagi berburu rusa, melainkan berburu pengakuan.

Dan kita, penontonnya, terjebak dalam lingkaran itu. Menonton dengan tawa, padahal dalam hati kita tahu: yang sedang kita saksikan bukan kebangkitan, melainkan kemunduran yang dibungkus cahaya LED.

Selamat datang di zaman batu digital.
Zaman di mana cungkring bisa jadi ratu, dan kebodohan berpakaian glamor.

Bagikan ini :