Manusia Setengah Dewa Di Balik Meja Sekolah

Manusia Setengah Dewa di Balik Meja Sekolah

  • Mei, 26, 2026
  • 0
  • 135 views

Di banyak sekolah, aturan dibuat untuk menjaga keseimbangan. Ada tata tertib bagi siswa, etika bagi guru, dan prosedur bagi para pemimpin. Namun kadang, muncul sosok-sosok yang merasa dirinya lebih tinggi dari aturan itu sendiri. Mereka berjalan seolah manusia setengah dewa tidak tersentuh kritik, tidak perlu musyawarah, dan merasa semua keputusan yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran mutlak.

Mereka duduk di kursi wakil sekolah, tetapi bertindak layaknya penguasa kerajaan kecil. Aturan hanya berlaku untuk bawahan, sedangkan bagi dirinya sendiri, aturan bisa dibengkokkan sesuai kepentingan. Hari ini berbicara tentang disiplin, besok datang terlambat tanpa rasa malu. Mengajarkan etika kepada siswa, tetapi memperlakukan rekan kerja dengan nada merendahkan. Menuntut profesionalisme, namun mengambil keputusan berdasarkan ego dan kedekatan pribadi.

Mungkin mereka lupa bahwa jabatan hanyalah titipan, bukan mahkota para dewa.

Manusia setengah dewa dalam dunia sekolah sering kali merasa bahwa pengalaman adalah alasan untuk bertindak semaunya. Mereka sulit menerima kritik karena menganggap pendapatnya selalu paling benar. Dalam rapat, suara orang lain hanya dianggap pelengkap formalitas. Aturan dibuat bukan untuk dipatuhi bersama, tetapi untuk menjadi alat mengendalikan orang lain.

Ironisnya, mereka ingin dihormati, tetapi lupa cara menghargai. Mereka ingin ditaati, tetapi tidak memberi teladan. Padahal sekolah bukan tempat mempertontonkan kekuasaan, melainkan ruang pendidikan yang seharusnya dipenuhi kebijaksanaan.

Sosok seperti ini biasanya tidak sadar bahwa yang membuat orang diam bukan selalu rasa hormat—kadang hanya rasa lelah menghadapi kesombongan.

Pemimpin sejati tidak perlu bertindak seperti dewa. Ia cukup menjadi manusia yang adil. Karena di lingkungan pendidikan, keteladanan lebih berpengaruh daripada jabatan. Dan sejarah sekolah selalu membuktikan: mereka yang memimpin dengan kesombongan mungkin ditakuti sementara, tetapi mereka yang memimpin dengan aturan dan hati akan dikenang lebih lama.

Bagikan ini :