Scan Wajah Mengkerdilkan Wibawa Atasan

Scan Wajah sebagai Upaya Mendisiplinkan Pegawai: Jangan Sampai Mengerdilkan Wibawa Atasan

Kemajuan teknologi seharusnya membantu organisasi menjadi lebih efektif, bukan menggantikan fungsi kepemimpinan. Namun, ketika scan wajah atau face recognition dijadikan senjata utama untuk mendisiplinkan pegawai, muncul persoalan yang patut direnungkan: apakah organisasi sedang membangun disiplin, atau justru sedang menunjukkan lemahnya wibawa atasan?

Scan wajah memang praktis. Pegawai sulit menitip absen, waktu kedatangan dapat direkam secara akurat, dan data kehadiran dapat dipantau setiap saat. Dari sisi administrasi, teknologi ini tentu memiliki manfaat. Tetapi disiplin pegawai tidak seharusnya berhenti pada kemampuan mesin mencatat siapa datang pukul 07.30 dan siapa terlambat lima menit.

Jika seorang pegawai hanya datang tepat waktu karena takut wajahnya tidak terbaca mesin, maka yang tercipta bukanlah disiplin yang sesungguhnya, melainkan kepatuhan karena pengawasan.

Di sinilah persoalannya.

Organisasi membutuhkan pegawai yang sadar akan tanggung jawab, bukan sekadar pegawai yang takut terhadap mesin absensi. Disiplin seharusnya lahir dari budaya kerja, keteladanan, rasa tanggung jawab, dan penghormatan terhadap aturan organisasi. Semua itu dibangun melalui kepemimpinan, bukan semata-mata melalui teknologi.

Seorang atasan pada hakikatnya memiliki kewenangan untuk membina bawahannya. Ia dapat menegur, mengingatkan, mengevaluasi, memberikan penghargaan, maupun memberikan sanksi sesuai aturan. Lebih penting lagi, seorang atasan harus mampu menjadi contoh.

Namun, ketika seluruh fungsi pendisiplinan seolah diserahkan kepada scan wajah, posisi pimpinan perlahan menjadi administratif. Pimpinan cukup membuka aplikasi, membaca daftar keterlambatan, lalu menyerahkan persoalan kepada sistem.

Jika keadaan seperti ini dibiarkan, bukankah secara tidak langsung wibawa atasan justru sedang diperkecil?

Ironis apabila seorang pegawai lebih takut terlambat karena khawatir wajahnya tidak terekam daripada karena menghormati aturan dan arahan atasannya. Lebih ironis lagi apabila pimpinan sendiri tidak mampu menegakkan disiplin tanpa bantuan mesin.

Teknologi akhirnya tampak lebih berwibawa daripada manusia yang memimpin organisasi tersebut.

Padahal, wibawa seorang atasan tidak ditentukan oleh banyaknya CCTV, mesin sidik jari, scan wajah, ataupun aplikasi pemantauan. Wibawa lahir dari keteladanan, integritas, konsistensi, keadilan, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan membangun rasa hormat dari bawahan.

Seorang pemimpin yang datang tepat waktu akan lebih mudah meminta bawahannya datang tepat waktu. Seorang pemimpin yang bekerja serius akan lebih mudah menuntut pegawainya bekerja sungguh-sungguh. Sebaliknya, pemimpin yang menuntut disiplin tetapi tidak memberikan keteladanan hanya akan melahirkan kepatuhan semu.

Ada pula kekeliruan lain yang sering terjadi, yakni menjadikan kehadiran sebagai ukuran utama kedisiplinan dan bahkan produktivitas.

Pegawai yang wajahnya tercatat setiap pagi belum tentu produktif. Bisa saja ia datang tepat waktu, tetapi sebagian besar jam kerjanya tidak menghasilkan pekerjaan yang berarti. Sebaliknya, pegawai yang sesekali mengalami keterlambatan belum tentu memiliki kinerja buruk.

Karena itu, jangan sampai organisasi terlalu sibuk mencatat menit kedatangan tetapi lupa mengukur kualitas hasil pekerjaan.

Yang seharusnya dinilai bukan hanya “jam berapa pegawai masuk”, tetapi juga apa yang dikerjakan, bagaimana kualitas pekerjaannya, bagaimana pelayanan yang diberikan, sejauh mana target tercapai, dan seberapa besar tanggung jawabnya terhadap tugas.

Scan wajah tetap boleh digunakan. Tidak perlu pula dimusuhi. Teknologi adalah alat yang baik apabila ditempatkan secara tepat.

Tetapi alat tetaplah alat.

Data scan wajah seharusnya menjadi informasi bagi pimpinan untuk melakukan pembinaan, bukan menjadi pengganti kepemimpinan. Jika ditemukan pegawai yang terlambat berulang kali, pimpinan harus memanggil dan membina. Jika pelanggaran terus terjadi, aturan harus ditegakkan secara konsisten. Sebaliknya, pegawai yang menunjukkan disiplin dan kinerja baik juga pantas memperoleh penghargaan.

Dengan demikian, teknologi memperkuat kepemimpinan, bukan mengambil alih kepemimpinan.

Organisasi yang sehat bukan organisasi yang pegawainya takut kepada mesin. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang pegawainya memiliki kesadaran, menghargai pimpinan, memahami tanggung jawabnya, dan menaati aturan sekalipun tidak sedang diawasi.

Karena pada akhirnya, scan wajah hanya mampu mengenali identitas seseorang. Ia tidak mampu membangun loyalitas. Ia tidak mampu menanamkan etika. Ia tidak mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab. Dan tentu saja, ia tidak mampu menggantikan keteladanan seorang pemimpin.

Mesin bisa mencatat siapa yang hadir, tetapi pemimpinlah yang seharusnya membuat pegawai merasa wajib hadir dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Jika untuk mendisiplinkan bawahan seorang atasan sepenuhnya bergantung kepada mesin, barangkali yang perlu dievaluasi bukan hanya kedisiplinan pegawainya, tetapi juga kualitas kepemimpinannya.

Bagikan ini :