Ketika Oknum Guru Berlawanan dengan Nilai Keramahtamahan: Bagaimana Melayani Murid ?
Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga sosok yang memberikan pengalaman belajar bagi murid. Sikap, ucapan, dan cara guru memperlakukan murid menjadi bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Karena itu, keramahtamahan menjadi salah satu nilai penting yang harus dimiliki seorang guru. Guru yang ramah mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan membuat murid merasa dihargai.
Namun, dalam praktiknya masih ditemukan oknum guru yang menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai keramahtamahan. Misalnya, guru yang mudah membentak murid, merendahkan kemampuan peserta didik, tidak mau mendengarkan alasan murid, atau memberikan perlakuan berbeda berdasarkan latar belakang tertentu. Sikap seperti ini dapat menciptakan jarak antara guru dan murid. Murid mungkin hadir di kelas secara fisik, tetapi secara emosional mereka merasa tidak diterima. Bahkan juga terbawa dalam prilaku dengan sesama rekan guru, cenderung menarik diri dari pergaulan, dan bersikap acuh tak acuh, miskin senyum, dan paceklik bertegur-sapa. Seolah-olah dia hidup hanya dirinya dan dunia kerja saja, padahal dunia kerja yang dia tekuni tak bisa dijauhkan dengan interaksi sosial. mirisss banget !
Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi juga proses membangun hubungan manusiawi. Murid adalah individu yang sedang berkembang dan membutuhkan bimbingan. Kesalahan, keterlambatan memahami materi, atau perilaku yang kurang tepat seharusnya menjadi kesempatan bagi guru untuk membimbing, bukan alasan untuk mempermalukan. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi ketegasan tidak harus disertai dengan kemarahan atau tindakan yang melukai harga diri murid.








