Beranda » Inilah Negeri Konoha: Ketika Kedunguan Menjadi Sistem dan Karya Kehilangan Makna
Dungu Berjaya Banyak Karya Tak Bermakna

Inilah Negeri Konoha: Ketika Kedunguan Menjadi Sistem dan Karya Kehilangan Makna

Ada sebuah negeri bernama Konoha.

Negeri ini bukan negeri tanpa orang cerdas. Ia memiliki universitas, lembaga riset, kaum profesional, birokrat, akademisi, pengusaha, pemikir, dan generasi muda yang setiap tahun dipenuhi harapan baru.

Namun persoalan sebuah negeri tidak pernah semata-mata ditentukan oleh berapa banyak orang pintar yang dimilikinya.

Persoalan yang lebih mendasar adalah: nilai seperti apa yang dihargai oleh sistemnya?

Sebab sebuah masyarakat dapat memiliki ribuan orang berpendidikan tinggi, tetapi tetap hidup dalam kebodohan kolektif apabila kebijaksanaan tidak dihargai, rasionalitas tidak digunakan, dan kebenaran hanya diterima sejauh tidak mengganggu kepentingan.

Di sinilah tragedi Konoha bermula.

Bukan karena orang-orangnya tidak mampu berpikir.

Melainkan karena berpikir tidak selalu menguntungkan.

Kedunguan Bukan Sekadar Kekurangan Pengetahuan

Kita sering memahami kebodohan sebagai ketidaktahuan.

Padahal kedunguan sosial jauh lebih rumit.

Orang yang tidak tahu dapat belajar.

Orang yang salah dapat dikoreksi.

Tetapi seseorang yang tidak tahu, tidak mau tahu, lalu diberikan kekuasaan untuk menentukan hidup orang lain—itulah persoalan yang jauh lebih besar.

Kedunguan kemudian tidak lagi menjadi sifat individual.

Ia berubah menjadi struktur.

Ia masuk ke dalam kebijakan.

Ia hadir dalam prosedur.

Ia memperoleh stempel.

Ia dibungkus bahasa administratif.

Ia dilegitimasi oleh jabatan.

Dan pada akhirnya masyarakat berhenti melihatnya sebagai keanehan.

Kedunguan menjadi normal.

Pada tahap itulah sebuah negeri berada dalam bahaya.

Sebab yang paling berbahaya bukan orang bodoh yang sadar bahwa dirinya tidak tahu, melainkan orang bodoh yang yakin bahwa dirinya benar karena sistem terus mengafirmasinya.

Bagikan ini :