Dungu Berjaya Banyak Karya Tak Bermakna

Inilah Negeri Konoha: Ketika Kedunguan Menjadi Sistem dan Karya Kehilangan Makna

Meritokrasi yang Perlahan Mati

Sebuah masyarakat akan berkembang ketika penghargaan diberikan kepada kemampuan.

Namun ia mulai membusuk ketika penghargaan diberikan terutama kepada kedekatan.

Dalam masyarakat yang sehat, seseorang bertanya:

“Siapa yang paling mampu mengerjakan ini?”

Dalam masyarakat yang sakit, pertanyaannya berubah:

“Siapa orang kita?”

Perubahan satu kalimat itu memiliki konsekuensi yang sangat besar.

Jika kompetensi tidak menentukan posisi, maka manusia rasional akan berhenti berinvestasi pada kompetensi.

Jika kedekatan memberikan hasil lebih cepat daripada keahlian, orang akan belajar membangun jaringan, bukan kapasitas.

Jika loyalitas lebih dihargai daripada kecakapan, orang akan belajar menyenangkan atasan, bukan memperbaiki pekerjaan.

Lalu perlahan terbentuklah apa yang dapat disebut sebagai seleksi terbalik.

Orang terbaik tidak selalu naik.

Orang yang paling cocok dengan sistemlah yang naik.

Semakin lama sistem seperti itu berlangsung, semakin sedikit orang kompeten yang bertahan di dalamnya.

Sebagian pergi.

Sebagian diam.

Sebagian menyerah.

Sebagian menyesuaikan diri.

Dan akhirnya institusi dipenuhi oleh manusia yang ahli bertahan dalam sistem, tetapi tidak selalu ahli menjalankan fungsi sistem.

Pendidikan dan Ilusi Intelektualitas

Konoha tidak kekurangan sekolah.

Tidak kekurangan universitas.

Tidak kekurangan seminar.

Tidak kekurangan gelar.

Tetapi pendidikan sejati bukan sekadar pemindahan informasi.

Ia adalah pembentukan kemampuan berpikir.

Seseorang disebut terdidik bukan karena mengetahui banyak jawaban, tetapi karena mampu mengajukan pertanyaan yang tepat.

Namun pendidikan yang hanya mengejar angka akan menghasilkan manusia yang takut salah.

Pendidikan yang hanya mengejar ijazah menghasilkan manusia yang mengejar pengakuan.

Pendidikan yang hanya mengajarkan kepatuhan menghasilkan manusia yang terampil mengikuti prosedur, tetapi tidak berani mempertanyakan apakah prosedur itu masuk akal.

Maka sebuah paradoks muncul.

Semakin banyak orang memperoleh gelar, belum tentu semakin rasional masyarakatnya.

Sebab gelar dapat mengukur perjalanan akademik.

Ia tidak otomatis mengukur kedalaman berpikir.

Ia tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Ia bahkan tidak menjamin keberanian moral.

Di sinilah perbedaan antara intelektual dan sekadar orang terdidik.

Orang terdidik mengetahui.

Seorang intelektual mempertanyakan.

Orang terdidik dapat menghafal teori.

Seorang intelektual berani menggunakannya untuk mengkritik kenyataan.

Bagikan ini :