Inilah Negeri Konoha: Ketika Kedunguan Menjadi Sistem dan Karya Kehilangan Makna
Kedunguan Kolektif
Kedunguan kolektif tidak lahir karena semua orang bodoh.
Ia justru dapat tumbuh di tengah masyarakat yang cukup cerdas.
Ia lahir ketika manusia rasional memilih diam secara individual.
Satu orang berpikir:
“Untuk apa bicara? Tidak akan berubah.”
Orang lain berpikir:
“Lebih aman ikut saja.”
Yang lain berkata:
“Saya tahu ini salah, tetapi bukan urusan saya.”
Secara individual, keputusan-keputusan itu mungkin masuk akal.
Namun jika dilakukan oleh jutaan orang, hasilnya adalah sebuah masyarakat yang secara kolektif bertindak bodoh.
Inilah tragedi klasik peradaban.
Keburukan tidak selalu membutuhkan banyak orang jahat.
Kadang ia hanya membutuhkan cukup banyak orang baik yang memilih tidak melakukan apa-apa.
Kedunguan pun tidak selalu membutuhkan jutaan orang bodoh.
Kadang ia cukup membutuhkan sejumlah kecil orang bodoh yang aktif dan sejumlah besar orang pintar yang pasif.
Ketika Popularitas Menggantikan Kebenaran
Zaman modern melahirkan persoalan baru.
Dahulu gagasan dinilai berdasarkan kualitas argumentasinya.
Hari ini gagasan sering dinilai berdasarkan jumlah penontonnya.
Yang viral dianggap penting.
Yang populer dianggap benar.
Yang banyak disukai dianggap layak dipercaya.
Algoritma tidak bertanya apakah sesuatu benar.
Ia bertanya apakah sesuatu menarik perhatian.
Dan manusia perlahan menyesuaikan diri dengan logika itu.
Argumentasi panjang kalah oleh potongan video.
Penelitian kalah oleh kutipan.
Kompleksitas kalah oleh slogan.
Nuansa kalah oleh kemarahan.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi bukan oleh gagasan terbaik, melainkan oleh gagasan yang paling mudah dikonsumsi.
Kedunguan memperoleh keuntungan besar dalam sistem semacam ini.
Sebab kebenaran sering membutuhkan penjelasan panjang.
Kebohongan hanya membutuhkan satu kalimat.





