Dungu Berjaya Banyak Karya Tak Bermakna

Inilah Negeri Konoha: Ketika Kedunguan Menjadi Sistem dan Karya Kehilangan Makna

Formalitas Sebagai Pengganti Substansi

Salah satu ciri khas masyarakat yang kehilangan orientasi adalah ketika simbol menggantikan substansi.

Konoha menyukai simbol.

Sertifikat.

Piagam.

Gelar.

Seragam.

Logo.

Spanduk.

Slogan.

Upacara.

Semua itu tidak salah.

Tetapi ketika tanda keberhasilan menjadi lebih penting daripada keberhasilan itu sendiri, masyarakat masuk ke dalam dunia simulasi.

Yang penting terlihat bekerja.

Yang penting terlihat peduli.

Yang penting terlihat profesional.

Yang penting terlihat sukses.

Persoalan apakah kerja itu sungguh menghasilkan sesuatu menjadi urusan kedua.

Maka lahirlah budaya representasi.

Rapat menjadi simbol kerja.

Laporan menjadi simbol akuntabilitas.

Sertifikat menjadi simbol kompetensi.

Gelar menjadi simbol kecerdasan.

Popularitas menjadi simbol keberhasilan.

Padahal simbol dapat diproduksi jauh lebih mudah daripada substansi.

Kita dapat mencetak sertifikat dalam lima menit.

Tetapi menciptakan kompetensi membutuhkan bertahun-tahun.

Kita dapat membuat slogan dalam satu malam.

Tetapi membangun budaya membutuhkan satu generasi.

Kita dapat membangun gedung dalam beberapa bulan.

Tetapi membangun institusi memerlukan integritas yang panjang.

Bagikan ini :