Dungu Berjaya Banyak Karya Tak Bermakna

Inilah Negeri Konoha: Ketika Kedunguan Menjadi Sistem dan Karya Kehilangan Makna

Negeri yang Kehilangan Pertanyaan

Ada sebuah pertanda penting ketika suatu masyarakat mulai kehilangan vitalitas intelektualnya.

Bukan ketika ia tidak lagi memiliki jawaban.

Tetapi ketika ia berhenti mengajukan pertanyaan.

Mengapa kita melakukan ini?

Siapa yang memperoleh manfaat?

Apakah kebijakan ini bekerja?

Apakah uang ini digunakan dengan benar?

Apakah orang yang duduk di jabatan itu kompeten?

Apakah sistem pendidikan kita sungguh menghasilkan manusia yang mampu berpikir?

Apakah pembangunan meningkatkan kualitas hidup atau hanya mempercantik statistik?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah oksigen bagi kehidupan publik.

Negeri yang takut terhadap pertanyaan pada akhirnya hanya akan menghasilkan kepatuhan.

Dan kepatuhan tanpa pikiran adalah salah satu bentuk paling halus dari kemunduran.

Yang Harus Ditakuti Bukan Kebodohan

Kebodohan individual tidak perlu terlalu ditakuti.

Ia dapat diperbaiki melalui pendidikan.

Yang harus ditakuti adalah kebodohan yang mendapatkan legitimasi.

Kebodohan yang duduk di kursi kekuasaan.

Kebodohan yang memperoleh anggaran.

Kebodohan yang mengendalikan institusi.

Kebodohan yang tidak dapat dikritik.

Kebodohan yang dikelilingi para penjilat.

Kebodohan yang kemudian mendefinisikan dirinya sebagai kebenaran.

Pada titik itu, persoalannya bukan lagi intelektual.

Ia telah menjadi persoalan moral.

Sebab setiap kekuasaan memiliki kewajiban untuk mengetahui batas pengetahuannya sendiri.

Barangkali di sinilah kebijaksanaan Socrates masih relevan ribuan tahun kemudian: manusia mulai menjadi bijaksana ketika ia mengetahui bahwa ada banyak hal yang tidak diketahuinya.

Sebaliknya, kedunguan mencapai bentuk paling berbahaya ketika seseorang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Bagikan ini :