Mengharap Burung Di Langit Ular Ditangan Jadi Pujaan

Mengharap burung di langit dalam genggaman, ular di tangan malah jadi pujaan

  • Jun, 26, 2026
  • 0
  • 8 views

Ada kalanya manusia terlalu jauh menatap langit, berharap sesuatu yang indah akan jatuh ke dalam genggamannya. Ia memandangi burung yang terbang bebas di angkasa, membayangkan betapa bahagianya jika burung itu bisa ia miliki. Dalam pikirannya, burung itu adalah lambang harapan, keindahan, cita-cita, atau sesuatu yang selama ini ia anggap mampu menyempurnakan hidupnya. Namun, karena terlalu sibuk menatap apa yang belum tentu bisa diraih, ia lupa menunduk dan melihat apa yang sebenarnya sedang ia pegang.

Di tangannya, ternyata ada seekor ular. Sesuatu yang jelas-jelas berbahaya, penuh bisa, dan sewaktu-waktu dapat melukai. Tetapi anehnya, ular itu tidak ia lepaskan. Ia justru menggenggamnya semakin erat, merawatnya, membelanya, bahkan memujanya seolah-olah ular itu adalah harta yang paling berharga. Orang lain mungkin sudah memperingatkan bahwa yang ia pegang bukanlah anugerah, melainkan ancaman. Namun ketika hati sudah dikuasai oleh ambisi, rasa sayang yang keliru, atau ketakutan kehilangan, kebenaran sering kali terdengar seperti gangguan.

Ungkapan ini menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu mengejar sesuatu yang belum pasti, sementara ia membiarkan dirinya terikat pada sesuatu yang nyata-nyata merusak. Ia menginginkan burung di langit, sesuatu yang terlihat indah tetapi belum tentu bisa dimiliki. Pada saat yang sama, ia mempertahankan ular di tangan, sesuatu yang sudah jelas membawa bahaya. Lebih menyedihkan lagi, bahaya itu tidak hanya dibiarkan, tetapi malah diagungkan.

Dalam kehidupan, hal seperti ini sering terjadi. Seseorang bisa saja terlalu mengejar impian, jabatan, cinta, pengakuan, atau kebahagiaan yang belum tentu menjadi miliknya. Ia rela mengorbankan ketenangan, harga diri, bahkan orang-orang yang tulus di sekitarnya demi sesuatu yang masih berupa bayangan. Sementara itu, hal-hal buruk yang sudah ada di dekatnya justru dipertahankan: hubungan yang menyakitkan, kebiasaan yang merusak, sikap egois, rasa iri, keserakahan, atau keputusan yang salah. Karena sudah terlalu lama menggenggamnya, ia merasa bahwa melepaskan adalah kekalahan. Padahal, melepaskan ular bukan berarti kehilangan, melainkan menyelamatkan diri.

Kalimat ini juga bisa menjadi sindiran tajam bagi orang yang salah menilai keadaan. Ia menganggap yang jauh selalu lebih indah, sementara yang dekat tidak pernah ia pahami dengan jernih. Ia memuja sesuatu bukan karena benar-benar baik, tetapi karena sudah terlanjur percaya. Ia membela sesuatu bukan karena benar, tetapi karena gengsinya tidak ingin mengakui bahwa ia salah. Akhirnya, ia hidup dalam pertentangan: matanya memandang langit, tangannya menggenggam bahaya, dan hatinya menipu diri sendiri.

Burung di langit memang terlihat menawan, tetapi belum tentu menjadi milik kita. Ular di tangan memang berada dalam genggaman, tetapi bukan berarti layak dipertahankan. Tidak semua yang dekat pantas dijaga, dan tidak semua yang jauh pantas dikejar. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan mana harapan yang layak diperjuangkan dan mana bahaya yang harus dilepaskan.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengingatkan bahwa manusia sering kali terluka bukan hanya karena gagal mendapatkan apa yang ia impikan, tetapi karena terlalu keras kepala mempertahankan sesuatu yang sejak awal sudah salah. Ia berharap mendapatkan burung di langit, tetapi justru hatinya memuja ular, ularnya ular dot lagi.

Bagikan ini :