Humas Gemblung yang Kecemplung
Di sebuah desa kecil bernama Polostomo, hiduplah seorang humas desa bernama Jeng Trinil. Orang-orang memanggilnya “Humas Gemblung” bukan karena dia jahat, tapi karena tingkahnya sering di luar nalar. Ia selalu percaya diri meski sering salah paham. Kalau ada rapat warga, dia datang membawa pengeras suara rusak. Kalau ada tamu penting, dia malah sibuk pidato tentang lomba mancing tahun lalu.
Suatu sore, Jeng Trinil mendapat tugas penting: menyambut rombongan pejabat kabupaten yang akan meninjau embung desa. Demi terlihat profesional, ia memakai jas cokelat tua yang sudah sempit dan sepatu mengilap pinjaman dari kepala dusun. Di tangannya, ia membawa map merah berisi sambutan yang ditulis dengan huruf besar-besar supaya tidak salah baca.
Warga sebenarnya cemas membiarkan Jeng Trinil memimpin acara. Tapi karena tak ada pilihan lain, semua hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi kekacauan.
Saat rombongan pejabat datang, Jeng Trinil berdiri paling depan dengan penuh gaya. Ia mengangkat tangan, memberi salam terlalu keras hingga mikrofon berdengung nyaring.
“Selamat datang para pejabat yang terhormat dan masyarakat yang belum sempat jadi pejabat!” katanya bangga.
Beberapa warga langsung menunduk menahan tawa.
Acara lalu dilanjutkan dengan peninjauan embung yang berada di pinggir sawah. Jeng Trinil berjalan paling depan sambil terus berbicara panjang lebar, seolah-olah ia ahli tata air nasional.
“Embung ini sangat strategis,” ujarnya sambil melangkah mundur agar tetap menghadap pejabat. “Airnya basah, ikannya hidup, dan….”
BYURR!
Belum selesai bicara, kakinya terpeleset lumut. Tubuhnya melayang sebentar sebelum akhirnya kecemplung ke embung dengan suara keras. Air muncrat ke mana-mana. Map merahnya mengapung seperti perahu kecil, sementara sepatu pinjamannya tenggelam entah ke mana.
Semua orang terdiam beberapa detik.
Lalu terdengar tawa pecah dari warga. Bahkan salah satu pejabat sampai melepas kacamatanya karena tertawa terlalu keras.
Jeng Trinil muncul dari air dengan rambut penuh eceng gondok. Tapi bukannya malu, ia malah mengangkat tangan dan berkata lantang:
“Nah! Ini bukti nyata bahwa embung kita cukup dalam dan aman untuk menampung air!”
Tawa semakin menjadi-jadi. Sejak hari itu, kisah “Humas Gemblung yang Kecemplung” menjadi legenda desa. Anehnya, justru karena kejadian itu, desa mereka viral di media sosial dan akhirnya mendapat bantuan tambahan untuk memperbaiki embung.
Jeng Trinil pun tetap bangga. Menurutnya, humas yang baik bukan hanya pandai bicara, tapi juga siap “terjun langsung” ke lapangan.






