Bendahara Kemaruk, Bikin Tatanan Kian Terpuruk
Bendahara kemaruk, bikin tatanan kian terpuruk.
Kalimat tersebut bukan sekadar sindiran. Ia menggambarkan bagaimana keserakahan dalam mengelola keuangan dapat membawa dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan nominal. Ketika uang bersama tidak dikelola dengan benar, yang ikut terkikis adalah rasa percaya. Ketika rasa percaya hilang, kebersamaan mulai retak. Ketika kebersamaan retak, tatanan yang dibangun bersama pun perlahan menjadi rapuh.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika kesalahan pengelolaan keuangan dibiarkan berulang karena tidak ada keberanian untuk mengoreksi. Orang-orang memilih diam demi menjaga hubungan. Sebagian takut dianggap melawan. Sebagian lagi berpikir, “yang penting bukan uang saya.” Padahal, jika uang tersebut merupakan amanah bersama, maka setiap anggota memiliki kepentingan untuk mengetahui bagaimana uang itu dikelola.
Diam terhadap ketidakberesan bukan selalu berarti menjaga kedamaian. Terkadang, diam justru memberi ruang bagi masalah untuk tumbuh lebih besar.
Sebuah organisasi, kelompok, maupun komunitas tidak akan runtuh hanya karena kekurangan uang. Banyak tatanan justru mulai runtuh ketika kepercayaan, kejujuran, dan rasa tanggung jawab tidak lagi menjadi fondasi. Uang hanyalah alat. Yang menentukan sehat atau tidaknya sebuah tatanan adalah bagaimana manusia yang diberi kewenangan memperlakukannya.
Karena itu, seorang bendahara seharusnya memahami bahwa uang yang berada di tangannya bukanlah uang pribadi. Ada hak orang lain di dalamnya. Ada kepentingan bersama di balik setiap angka. Ada kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan.
Tidak ada salahnya mendapatkan hak sesuai ketentuan. Tidak ada salahnya menerima honor atau fasilitas jika memang telah disepakati dan memiliki dasar yang jelas. Yang menjadi persoalan adalah ketika kewenangan dimanfaatkan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, ketika kepentingan pribadi ditempatkan di atas kepentingan bersama, dan ketika laporan keuangan tidak lagi menjadi bentuk pertanggungjawaban, melainkan sekadar formalitas.
Jangan sampai jabatan yang awalnya diberikan karena kepercayaan justru berakhir menjadi sumber kekecewaan.
Sebab seorang pemimpin atau pengelola keuangan tidak hanya dinilai ketika semuanya berjalan lancar. Karakter seseorang justru terlihat ketika ia memiliki kesempatan untuk mengambil lebih dari yang seharusnya, tetapi memilih untuk tetap jujur. Di situlah letak nilai sebuah amanah.





