Bendahara Kemaruk, Bikin Tatanan Kian Terpuruk
Jabatan pada dasarnya adalah amanah. Di dalamnya ada kepercayaan, tanggung jawab, dan kewajiban untuk mengutamakan kepentingan bersama. Namun, ketika sebuah jabatan mulai dipandang sebagai kesempatan untuk memperkaya diri, maka nilai amanah perlahan kehilangan maknanya. Yang semestinya menjadi pengabdian berubah menjadi kepentingan pribadi, sementara yang seharusnya dijaga bersama justru dipertaruhkan demi ambisi segelintir orang.
Bendahara memiliki posisi yang sangat penting. Ia bukan sekadar orang yang memegang uang, mencatat pemasukan dan pengeluaran, atau menyimpan bukti transaksi. Lebih dari itu, bendahara memegang kepercayaan. Setiap rupiah yang masuk dan keluar membawa tanggung jawab moral kepada mereka yang memberikan amanah. Karena itu, kejujuran dan keterbukaan seharusnya menjadi prinsip utama dalam menjalankan tugas.
Masalah muncul ketika seorang bendahara mulai kemaruk—ketika rasa cukup menghilang dan kewenangan dianggap sebagai ruang untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Sedikit demi sedikit, batas antara hak dan kepentingan pribadi menjadi kabur. Pengelolaan keuangan yang seharusnya transparan berubah menjadi sesuatu yang sulit dipertanyakan. Informasi ditutup-tutupi, pertanggungjawaban ditunda, dan pertanyaan tentang penggunaan dana justru dianggap sebagai gangguan.
Padahal, mempertanyakan keuangan bukanlah bentuk permusuhan. Meminta laporan bukan berarti tidak percaya. Meminta transparansi bukan berarti mencari-cari kesalahan. Justru, keterbukaan merupakan bagian penting dari menjaga kepercayaan.





