Bendahara Kemaruk, Bikin Tatanan Kian Terpuruk
Kemaruk bukan tanda keberhasilan. Banyak bukan berarti bermartabat. Memegang uang banyak bukan berarti memiliki hak atas semuanya.
Justru semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang melekat padanya.
Tatanan yang sehat membutuhkan mekanisme yang sehat. Keuangan harus dapat diperiksa. Catatan harus dapat dipertanggungjawabkan. Pemasukan dan pengeluaran harus jelas. Jika ada kekeliruan, harus berani dikoreksi. Jika ada pertanyaan, harus dijawab dengan data, bukan dengan kemarahan. Dan jika ada dugaan penyimpangan, penyelesaiannya harus dilakukan melalui mekanisme yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan membangun kekuasaan dari ketakutan. Jangan mempertahankan jabatan dengan menutup-nutupi persoalan. Dan jangan menjadikan kepercayaan orang lain sebagai kesempatan untuk memenuhi keserakahan pribadi.
Karena pada akhirnya, jabatan akan berakhir. Kursi akan berganti. Kekuasaan akan berpindah tangan. Tetapi jejak dari cara seseorang menjalankan amanah akan tetap dikenang oleh orang-orang yang pernah merasakan dampaknya.
Maka, sebelum semuanya semakin terpuruk, sudah saatnya setiap pengelola amanah kembali mengingat hakikat tugasnya. Bendahara bukan pemilik uang bersama. Bendahara adalah penjaga kepercayaan.
Jika kepercayaan dijaga, tatanan akan tumbuh kuat.
Jika kejujuran dijunjung, kebersamaan akan tetap utuh.
Namun jika keserakahan dibiarkan menguasai amanah, jangan heran bila pada akhirnya yang terpuruk bukan hanya pembukuan, melainkan seluruh tatanan yang dibangun bersama.
Bendahara kemaruk, bikin tatanan kian terpuruk. Jangan biarkan keserakahan mengalahkan amanah.





