Ratumu Kahirnya Pralaya Oleh Sang Waktu

Ratumu telah pralaya, direnggut sang waktu

  • Mei, 26, 2026
  • 0
  • 118 views

Singgasana yang dahulu diagungkan kini hanya menyisakan gema dan kenangan. Namun anehnya, sebagian manusia masih memilih bersujud pada bayang-bayang, seolah kehilangan akal ketika fanatisme menjelma agama baru.

Mereka tidak lagi membela nilai, melainkan membela sosok.
Tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran.

Padahal waktu telah memberi jawaban paling jujur:
semua yang dipuja akan runtuh, semua yang diagungkan akan usang. Bahkan matahari pun tenggelam pada waktunya.

Lalu mengapa fanatisme masih membabi buta?

Mungkin karena sebagian orang takut hidup tanpa tokoh untuk disembah. Mereka lebih nyaman menjadi pengikut daripada berpikir merdeka. Mereka rela menutup mata terhadap kesalahan, asal simbol pujaannya tetap berdiri megah dalam imajinasi.

Padahal loyalitas tanpa nalar hanyalah jalan menuju kehancuran.
Dan sejarah selalu mencatat:
fanatik yang paling berbahaya bukan mereka yang mencintai terlalu dalam, melainkan mereka yang menolak melihat kenyataan.

Kini ratumu telah hilang ditelan zaman.
Yang tersisa hanyalah pertanyaan:

Akankah kalian tetap memuja abu, sementara dunia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang?

Bagikan ini :