Potret Dunia Pendidikan Yang Memprihatinkan

Guru Jarang di Kelas, Sang Muridpun Pulas di depan Kelas

  • Apr, 25, 2026
  • 0
  • 22 views

Ruang kelas seharusnya menjadi tempat paling hidup di sebuah sekolah ruang di mana ide bertemu, rasa ingin tahu tumbuh, dan masa depan mulai disusun perlahan. Namun apa jadinya jika ruang itu sering kosong dari kehadiran guru ? Bangku-bangku tetap terisi, tetapi makna pembelajaran menguap. Tanpa arahan dan interaksi, sebagian siswa memilih diam, sebagian lain berbincang, dan tak sedikit yang akhirnya terlelap bukan karena malas semata, melainkan karena kehilangan arah.

Ketidakhadiran guru di kelas bukan sekadar persoalan administratif, melainkan persoalan kualitas pendidikan. Satu pertemuan yang hilang mungkin tampak sepele, tetapi akumulasi dari banyak pertemuan yang terabaikan menciptakan celah pemahaman yang lebar. Materi tidak tuntas, konsep tidak utuh, dan semangat belajar pun merosot. Murid yang awalnya antusias bisa berubah apatis karena merasa tidak mendapatkan bimbingan yang semestinya.

Lebih dari itu, guru adalah pusat keteladanan. Kehadiran mereka bukan hanya untuk menyampaikan materi, tetapi juga membentuk sikap: disiplin, tanggung jawab, dan kesungguhan. Ketika guru sering absen tanpa alasan yang jelas, pesan yang tersirat justru sebaliknya bahwa komitmen bisa ditawar, dan kewajiban bisa diabaikan. Dalam jangka panjang, ini berpotensi membentuk budaya permisif yang merugikan.

Memang, ada situasi tertentu yang membuat guru tidak bisa hadir tugas dinas, pelatihan, atau kondisi kesehatan. Namun jika ketidakhadiran menjadi kebiasaan, maka perlu ada evaluasi yang jujur. Sekolah sebagai institusi harus memastikan sistem pengawasan berjalan, pembagian tugas jelas, dan ada mekanisme pengganti yang efektif agar proses belajar tetap berlangsung.

Di sisi lain, penting juga melihat kesejahteraan dan beban kerja guru secara utuh. Guru yang dihargai dan didukung dengan baik cenderung memiliki motivasi lebih tinggi untuk hadir dan mengajar dengan maksimal. Namun kesejahteraan tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan ketimpangan antara hak dan kewajiban.

“Guru jarang di kelas, sang murid pun pulas” bukan sekadar kalimat retoris, melainkan cermin dari realitas yang perlu dibenahi. Pendidikan tidak bisa berjalan dengan autopilot. Ia membutuhkan kehadiran nyata—fisik dan batin dari seorang guru. Sebab di balik setiap kelas yang hidup, selalu ada guru yang hadir, peduli, dan berkomitmen untuk menyalakan cahaya pengetahuan.

Bagikan ini :