Di tengah derasnya aktifitas jaringan global dan canggihnya AI, relevankah mengekang dengan Koar-koar ?
Di tengah derasnya aktivitas jaringan global dan semakin canggihnya kecerdasan buatan, pertanyaan tentang relevansi pendekatan kekuasaan dalam mengekang masyarakat, informasi, atau perubahan menjadi semakin penting untuk direnungkan. Dunia hari ini tidak lagi bergerak secara linear dan tertutup. Informasi melintasi batas negara dalam hitungan detik, opini publik terbentuk melalui ruang digital, dan teknologi AI mampu mempercepat produksi pengetahuan, komunikasi, bahkan pengambilan keputusan. Dalam situasi seperti ini, pendekatan kekuasaan yang hanya mengandalkan kontrol, pembatasan, dan pemaksaan tampak semakin kehilangan efektivitasnya.
Pada masa lalu, kekuasaan sering dipahami sebagai kemampuan untuk mengatur, membatasi, dan menentukan arah perilaku masyarakat dari atas ke bawah. Negara, institusi, atau otoritas tertentu dapat mengendalikan arus informasi melalui regulasi ketat, sensor, atau instruksi sepihak. Namun, dalam ekosistem digital saat ini, pola tersebut menghadapi tantangan besar. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, melainkan juga produsen, penyebar, sekaligus pengkritik informasi. Setiap individu dengan akses internet memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan, membangun jaringan, dan memengaruhi opini publik.
Kehadiran AI semakin memperkuat perubahan tersebut. AI tidak hanya menjadi alat bantu teknis, tetapi juga mengubah cara manusia bekerja, belajar, berdiskusi, dan memahami realitas. Dalam dunia yang digerakkan oleh algoritma, data, dan jaringan global, mengekang dengan pendekatan kekuasaan semata justru dapat menciptakan resistensi. Semakin kuat tekanan dilakukan, semakin besar kemungkinan munculnya perlawanan dalam bentuk narasi tandingan, migrasi ke platform lain, atau penggunaan teknologi untuk menghindari kontrol.
Namun, bukan berarti kekuasaan tidak lagi relevan. Kekuasaan tetap diperlukan, tetapi bentuk dan orientasinya harus berubah. Yang tidak relevan adalah kekuasaan yang bekerja secara represif, tertutup, dan anti-dialog. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah kekuasaan yang mampu mengarahkan, melindungi, dan menciptakan tata kelola yang adil. Dalam konteks AI dan jaringan global, kekuasaan seharusnya hadir untuk menjaga etika, melindungi data pribadi, mencegah penyalahgunaan teknologi, mengurangi kesenjangan digital, serta memastikan bahwa inovasi tidak mengorbankan kemanusiaan.
Pendekatan kekuasaan yang mengekang sering kali lahir dari ketakutan terhadap perubahan. Padahal, perubahan tidak selalu harus dilawan. Perubahan perlu dipahami, diantisipasi, dan dikelola. Jika kekuasaan hanya digunakan untuk membatasi, maka ia akan tampak kaku di hadapan zaman yang bergerak cepat. Sebaliknya, jika kekuasaan digunakan untuk membangun literasi, memperkuat kapasitas masyarakat, dan menciptakan aturan yang transparan, maka kekuasaan dapat menjadi instrumen yang relevan dan bermakna.
Di era AI, masyarakat tidak cukup hanya dikontrol; mereka perlu diedukasi. Informasi tidak cukup hanya disaring; masyarakat perlu dibekali kemampuan berpikir kritis. Teknologi tidak cukup hanya dibatasi; pemanfaatannya perlu diarahkan agar sejalan dengan nilai etika, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, pendekatan yang paling tepat bukan lagi mengekang, melainkan membimbing dan memberdayakan.
Karena itu, pertanyaan “masih relevankah mengekang dengan pendekatan kekuasaan?” dapat dijawab dengan tegas: pendekatan kekuasaan yang represif semakin tidak relevan, tetapi kekuasaan yang adaptif, etis, dan partisipatif justru semakin dibutuhkan. Dunia yang terkoneksi secara global tidak dapat dikelola dengan cara lama yang tertutup dan memaksa. Ia membutuhkan kepemimpinan yang terbuka, bijak, dan mampu membaca arah perubahan.
Pada akhirnya, di tengah derasnya aktivitas jaringan global dan kecanggihan AI, kekuasaan tidak boleh lagi dipahami sebagai alat untuk membungkam, melainkan sebagai tanggung jawab untuk menata. Bukan mengekang agar masyarakat diam, tetapi mengarahkan agar masyarakat mampu bergerak dengan sadar, kritis, dan bertanggung jawab. Sebab dalam dunia yang terus berubah, kekuasaan yang paling kuat bukanlah yang paling keras menekan, melainkan yang paling mampu membangun kepercayaan.






