Gaji Pegawai Telat, Siapa yang Hebat ?
Di negeri yang katanya menjunjung profesionalisme, ada satu tradisi luhur yang terus dilestarikan: gaji pegawai telat. Uniknya, pekerjaan tetap harus cepat, laporan harus tepat, dan target tidak boleh lewat satu detik pun.
Lalu siapa yang hebat ?
Tentu bukan sistemnya karena sistem jarang disalahkan.
Yang hebat adalah pegawai: tetap bekerja dengan perut berunding, dompet berpuasa, dan senyum dipaksakan.
Aneh memang. Datang terlambat kena tegur, pulang cepat dicatat, salah sedikit diperingatkan. Tapi gaji telat? Itu “hal biasa”. Katanya, sabar ya, ini ujian. Seolah-olah pegawai mendaftar kerja sekaligus mendaftar lomba ketahanan mental.
Lebih lucu lagi, loyalitas diukur dari seberapa lama pegawai bisa bertahan tanpa gaji. Makin kuat menahan lapar, makin dianggap berdedikasi. Mungkin ke depan, slip gaji diganti piagam: “Selamat, Anda Lulus Ujian Kesabaran Tingkat Lanjut.”
Jadi, siapa yang hebat ?
Pegawai yang tetap bekerja meski haknya diabaikan.
Sementara yang telat membayar… cukup pandai merangkai alasan.
Karena di sini, kerja harus profesional.
Soal gaji ? Nanti dulu.






