Jabatan Tinggi Butakan Seseorang Kepada Kebenaran

Terkadang menduduki jabatan tinggi butakan keimanan seseorang pada pakem

  • Apr, 21, 2026
  • 0
  • 19 views

Terkadang, jabatan yang tinggi bukan hanya meninggikan posisi seseorang, tetapi juga berpotensi mengaburkan kejernihan hati dan pikirannya. Saat seseorang mulai menikmati kekuasaan, pujian, dan fasilitas yang melekat pada jabatan, perlahan-lahan ia bisa lupa pada pakem, aturan dasar, bahkan nilai-nilai yang dahulu ia junjung tinggi.

Padahal, aturan dasar diciptakan bukan untuk membatasi, melainkan untuk menjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan. Namun, ketika kursi empuk sudah diduduki, sebagian orang merasa dirinya menjadi pengecualian. Ia mulai menafsirkan aturan sesuai kepentingan, memilih mana yang menguntungkan, dan mengabaikan mana yang dianggap menghambat. Di titik inilah, jabatan menjadi ujian keimanan: apakah ia tetap teguh pada prinsip, atau tergelincir oleh godaan kekuasaan.

Ironisnya, semakin tinggi jabatan, semakin besar pula dampak dari penyimpangan kecil. Kesalahan yang dilakukan oleh orang biasa mungkin hanya berdampak terbatas, tetapi ketika dilakukan oleh pemegang jabatan, efeknya bisa meluas, menular, dan bahkan menjadi contoh buruk bagi banyak orang. Bawahan akan meniru, sistem akan melemah, dan budaya organisasi perlahan berubah dari berpegang pada aturan menjadi berpegang pada kepentingan.

Keimanan pada pakem dan aturan dasar seharusnya justru semakin kuat ketika seseorang menduduki posisi tinggi. Jabatan bukanlah alasan untuk melonggarkan prinsip, melainkan tanggung jawab untuk menjaga marwah aturan itu sendiri. Orang yang benar-benar kuat bukanlah yang mampu mengubah aturan demi dirinya, tetapi yang mampu menahan diri untuk tetap tunduk pada aturan meski ia memiliki kuasa untuk melanggarnya.

Bagikan ini :