Teruslah Dungu Biar Makin Tak Digugu

Teruslah Dungu, Biar Makin Tak Digugu

  • Des, 11, 2025
  • 0
  • 14 views

Di tengah derasnya arus informasi, di mana pengetahuan dapat diakses bahkan sebelum sarapan, justru muncul fenomena aneh: kedunguan yang dipelihara dengan bangga. Orang bisa dengan mudah mencari jawaban, belajar hal baru, atau memperbaiki diri. Namun sebagian justru memilih jalan paling nyaman, tetap dungu, tetap stagnan, tetap begitu-begitu saja.

Dan akhirnya lahirlah kalimat getir yang kerap terdengar:
“Teruslah dungu, biar makin tak digugu.”

Dungu adalah pilihan, bukan nasib. Kedunguan bukan soal kemampuan otak bukan warisan, bukan kutukan. Ia adalah hasil dari kebiasaan: enggan mencari tahu, terlalu cepat puas, takut mengakui kesalahan, dan lebih suka membenarkan diri daripada belajar dari orang lain.

Dungu gaya baru bukan tentang tidak tahu, tetapi tidak mau tahu. Bukan tentang minim pengetahuan, tetapi enggan memperluas wawasan. Bukan karena tidak mampu belajar, tetapi menolak belajar karena merasa sudah cukup pandai.

Padahal dunia tak menunggu. Sementara satu orang belajar, yang lain melesat; sementara satu orang memperbaiki diri, yang lain terjebak di titik yang sama, tahun demi tahun. Tak digugu karena tak layak digugu. Di masa lalu, orang tua bijak memilih siapa yang pantas digugu lan ditiru—didengar dan diikuti.
Mereka menghargai yang berilmu, yang rendah hati, yang mau belajar.

Kini, ada orang yang ingin dihormati tapi tak mau berusaha layak dihormati.
Ingin dipercaya, tetapi tak pernah menunjukkan kualitas untuk dipercaya.
Ingin diikuti, tapi tidak pernah memberi teladan untuk diikuti.

Dan untuk mereka, satire ini pas betul: Teruslah dungu, biar makin tak digugu. Karena orang yang menolak tumbuh memang tidak pantas jadi rujukan. Dunia tak berhenti berputar hanya karena kita berhenti belajar

Ketika seseorang memilih kedunguan, dunia tidak peduli. Tidak ada rem yang mendadak menahan kemajuan orang lain. Tidak ada pemberitahuan resmi yang berbunyi, “Perhatian, seseorang sedang malas belajar. Mohon perlambat inovasi.”

Sementara ia terjebak dalam kebodohannya, orang lain melaju. Yang malas membaca, tertinggal. Yang enggan memahami, tersingkir. Yang lebih percaya gosip daripada data, tersesat. Dan yang merasa dirinya paling benar, sering berakhir jadi korban pemikiran sendiri.

Namun, satire ini bukan kutukan, ini peringatan. Setiap manusia punya peluang untuk naik satu tangga lebih tinggi. Setiap kepala bisa diasah, setiap pikiran bisa ditajamkan. Tidak ada yang terlambat, kecuali yang memilih untuk menyerah pada kemalasan.

Jika tidak ingin dianggap remeh, belajarlah.
Jika ingin pendapatmu dihargai, asahlah pengetahuanmu.
Jika ingin dipercaya, tumbuhkan kapasitasmu.
Jika ingin digugu, jadilah seseorang yang pantas digugu.

Akhirnya, pilihan ada di tangan masing-masing, Apakah ingin bertahan dalam kedunguan yang nyaman
atau melangkah menuju pemahaman yang mungkin melelahkan, tetapi selalu mengangkat derajat ? karena hidup ini selalu menawarkan dua jalan: Teruslah dungu, biar makin tak digugu…
atau teruslah belajar, biar makin pantas dihormati.

Bagikan ini :