Kamu kan Adipati jadi-jadian, kok lebih berkuasa dari yang asli ?
“Aneh sekali,” gumam seseorang dengan nada setengah heran, setengah menyindir. “Kamu kan Adipati jadi-jadian… tapi kenapa justru tampak lebih berkuasa dari yang asli?”
Orang yang ditanya itu hanya tersenyum tipis. Ia tidak mengenakan mahkota yang megah, tidak pula duduk di singgasana yang diwariskan turun-temurun. Namun setiap langkahnya diikuti, setiap ucapannya dipatuhi, seolah-olah kekuasaan itu memang melekat padanya sejak awal.
“Mungkin,” jawabnya pelan, “karena kekuasaan bukan soal siapa yang lebih dulu diberi gelar, tapi siapa yang benar-benar dijalankan.”
Di sisi lain, Adipati yang asli masih memegang legitimasi, memiliki cap resmi, dan diakui secara hukum. Namun kehadirannya jarang terasa. Keputusan-keputusannya lambat, bahkan kadang tak pernah sampai ke rakyat. Sementara si ‘jadi-jadian’ justru hadir di tengah-tengah mereka, menyelesaikan masalah, memberi arah, dan mengambil tindakan.
Orang-orang pun mulai bertanya dalam hati: apa arti ‘asli’ jika tidak berfungsi? Dan seberapa ‘palsu’ seseorang jika justru membawa perubahan nyata?
Dalam diam, batas antara yang sah dan yang berkuasa mulai kabur. Bukan karena aturan berubah, tetapi karena kenyataan di lapangan berbicara lebih keras daripada gelar yang disandang.






